ANTON CHARLIYAN, IKUT MENARI SAJOJO DI ULANG TAHUN GONG PERDAMAIAN DUNIA KARANGKAMULYAN

Print More
anton chaliyan - ANTON CHARLIYAN, IKUT MENARI SAJOJO DI ULANG TAHUN GONG PERDAMAIAN DUNIA KARANGKAMULYAN

Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan MPKN, ikut menari

Karangkamulyan, Radiopitalokafm.com -- Anton Charliyan Mantan Kapolda Jawa Barat yang juga sebagai pengagas berdirinya Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong),  ikut menari sajojo tarian tradisional yang berasal dari daerah Papua, yang mewarnai  peringatan sembilan tahun berdirinya GPD, yang di laksanakan di  Kuta Galuh Purba Situs Karangkamulyan Ciamis, Minggu (9/9/2018).

Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan MPKN, yang  hadir bersama  sejumlah raja dari berbagai belahan nusantara, utusan masyarakat adat, Kabuyutan Galuh, Kapolres Ciamis, AKBP Bismo Teguh Prakoso, Muspida, pejabat dinas, dan lain-lain.

Menurut Anton Charliyan, dalam sambutnya  mengatakan,  ide dan gagasan berdirinya Gong Perdamaian Dunia di Kuta Galuh Purba di Situs Karangkamulyan ini atas pertimbangan bahwa Kerajaan Galuh merupakan kerajaan yang lahir dan besar dengan semangat perdamaian dan kebersihan hati (galuh).

anton chaliyan 01 - ANTON CHARLIYAN, IKUT MENARI SAJOJO DI ULANG TAHUN GONG PERDAMAIAN DUNIA KARANGKAMULYAN

 “Dalam sejarah Kerajaan Galuh tak dikenal perluasan kekuasaan melalui ekspansi. Makanya wilayah Galuh tersebut dari berbagai generasi, baik itu Galuh Purba (Abad ke-7) sampai Galuh Abad kesatu, wilayahnya tetap saja dari Ujung Kulon sampai Cilacap. Teritorialnya tidak bertambah tidak berkurang, tidak seperti Mataram maupun Sriwijaya,” ujar Anton Charliyan.

“Dalam konsep pemerintahan Kerajaan Galuh, ada tiga peran yakni Ratu (Raja/eksekutif), Resi (yudikatif), dan Rama (Legislatif). Rama dan Resi bisa menurunkan raja dan mengangkat raja yang baru. Semacam trias politica. Itu sudah ada sejak era Kerajaan Galuh Purba,” katanya.

Menurut Anton, dari berbagai literasi dan peninggalan sejarah, pada tahun 737 masehi terjadi pertikaian antara Raden Manarah (Ciung Wanara) dari Galuh dengan Raden Sanjaya (Raja Kalingga). Padahal mereka masih bersaudara satu turunan. Pertikaian tersebut dapat memicu perang saudara. Akhirnya Resi dan Rama turun tangan mencari cara damai lewat musyawarah (sawala).

Musyawarah tersebut menghasilkan 10 seruan damai, Kesepuluhnya adalah :

  1. Menyudahi permusuhan (mawusana panyatrawanan)
  2. Bekerjasama (atuntunan tangan),
  3. Saling membantu (paras paropakara),
  4. Menjalin persahabatan (mitra samaya),
  5. Tidak boleh balas dendam (paribhaksa),
  6. Penyelesaian dengan damai (telasaken apa kenak),
  7. Pertemuan/sialturahmi dan musyawarah (mapulung rahi),
  8. Semangat persaudaraan (kaharep saduluran),
  9. Tidak saling menyerang (parapura) dan
  10. Menghormati yang berhak (maryapada sakengsi tutu)

tarian papua - ANTON CHARLIYAN, IKUT MENARI SAJOJO DI ULANG TAHUN GONG PERDAMAIAN DUNIA KARANGKAMULYAN

Masih Anton, Perang saudara itu (antara Ciung Wanara dan R Senjaya) akhirnya tidak terjadi setelah ada seruan damai hasil musyarawarah di Kuta Galuh Purba Karangkamulyan tersebut.  Tak ada gatrayuda (perang saudara) di Tatar Sunda.

Ketika nusantara dilanda banyak fitnah dan ancaman pertikaian, terlebih menjelang Pileg dan Pilpres setelah pelaksanaan Pilkada Serentak. Ke-10 seruan damai peninggalan kearifan Kerajaan Galuh Purba guna mengatasi ancaman pertikaian (perang saudara), masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *