IJTI GALUH RAYA, MINTA PRESIDEN CABUT REMISI PEMBUNUH JURNALIS

Print More
20190124 213412 - IJTI GALUH RAYA, MINTA PRESIDEN CABUT REMISI PEMBUNUH JURNALIS

Ciamis, Radiopitalokafm.com – Pemberi remisi kepada pembunuh wartawan Radar Bali, oleh Presiden Joko Widodo, disayangkan oleh Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Galuh Raya,

IJTI Galuh Raya, pemberian remisi kepada otak pembunuh wartawan bernama AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, dianggap telah mencederai kemerdekaan dan kebebasan pers di Indonesia.

Meski pemberian remisi itu adalah hak mutlak seorang Presiden, namun seharusnya hal tersebut dilakukan dengan berlandaskan pada pertimbangan yang matang, termasuk memperhatikan rasa keadilan bagi keluarga serta perlindungan hukum kepada para insan pers di Indonesia.

20190124 213052 336x310 - IJTI GALUH RAYA, MINTA PRESIDEN CABUT REMISI PEMBUNUH JURNALIS

Yopi Andreas Ketua IJTI Galuh Raya

Yopi Andreas, Ketua IJTI Galih Raya mengatakan, atas hal-hal itulah IJTI Galuh Raya menyayangkan langkah Presiden Joko Widodo mengeluarkan Kepres No 29 tahun 2018 tentang pemberian remisi berupa perubahan dari pidana penjara seumur hidup menjadi pidana penjara sementara pelaku pembunuh Prabangsa.

“Pemberian remisi ini seakan memberikan pembenaran terhadap aksi kriminal terhadap kebebasan pers. Itu sama artinya tidak masalah jika melakukan kekerasan terhadap pers,” tegas Yopi pada Kamis sore (24/1).

Bersamaan dengan pandangan ini, IJTI Galuh Raya juga mengeluarkan pernyataan sikap yaitu meminta Presiden membatalkan remisi terhadap pembunuh Prabangsa, memberikan perlindungan seluas-luasnya kepada insan pers dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu pilar demokrasi.

Pemerintah juga harus menjamin tegaknya supremasi hukum secara absolut bagi para pekerja pers Indonesia, demi membangun iklim kebebasan pers yang sehat di masa yang akan datang serta tidak mentolerir tindakan kriminalisasi apapun kepada insan pers dan mengungkap tuntas kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia tanpa terkecuali. (AS)

Leave a Reply