111 TAHUN BOEDI UTOMO. MEREKAT PERSATUAN BAKIT MAJU UNTUK INDONESIA ADIL MAKMUR

Print More
Dr. Sumadi M.Ag  - 111 TAHUN BOEDI UTOMO. MEREKAT PERSATUAN BAKIT MAJU UNTUK INDONESIA ADIL MAKMUR

peran radio dalam mitigasi bencana

Ciamis. Radiopitalokafm.com – Peringatan hari Kebangkitan Nasional tahun ini terlihat sangat special, 111 tahun berdirinya sebuah Organisasi yang bergerak dalam bidang Pendidikan, Budaya, Ekonomi dan Sosial yang bernama Boedi Utomo, tepatnya Pada Tahun 1908 lalu.

Organisasi yang didirikan Dr.Soetomo dan pelajar Stovia ( School tot Opleiding van Inlandsche artsen ) diantaranya  Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, Suryadi Soeryaningrat ( Ki Hajar Dewantoro), serta Dr. Wahidin Soedirohusodo sebagai penggagas Boedi Utomo.

Dr. Sumadi, Fasilitator (Training of Facilitator) Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PWK) Kabupaten Ciamis yang juga Dosen Institut Agama Islam Darussalam Ciamis. Mengatakan Organisasi ini sebagai awal dari lahirnya kesadaran berbangsa, bernegara, satu kesatuan Indonesia. Oleh itu peringatan 111 tahun memberikan pesan kita telah memiliki kesadaran dalam kesadaran dalam keragaman bersatu dalam naungan NKRI dengan janji setia Bhineka Tunggal Ika.

Dalam konteks Pemilu 2019. Menurut Sumadi, “Selama enam bulan lebih adu argumentasi, yang awalnya argumentasi biasa dan sehat. Adu lagu, adu karikatur, adu gagasan, tetapi tensinya makin hari makin tinggi. Bahkan cenderung makin brutal yang dikhawatirkan memecah belah persatuan dan kesatuan. Pertemanan, persaudaran, tidak mengenal profesi apapun terlibat brutal perang hoaks dan ujaran kebencian yang dapat berujung konflik”, jelasnya saat Dialog acara Bincang sore di Radio Pitaloka, 20/5/2019.

TALKSHOW KESBANGPOL 1170x878 - 111 TAHUN BOEDI UTOMO. MEREKAT PERSATUAN BAKIT MAJU UNTUK INDONESIA ADIL MAKMUR

TALKSHOW BERSAMA KESBANGPOL DI BINCANG SORE RADIO PITALOKA

Sumadi mencontohkan, misalnya seorang oknum pilot ditangkap polisi karena ujaran kebencaian dan ajakan untuk rusuh di 22 Mei 2019, pada saat KPU menentukan hasil Pemilu 2019 terkait Pemilu legislatiF dan Pemillu Presiden. Semua harus bijak pada keputusan KPU tanggal 22 Mei 2019. Harus tetap menjaga martabat bangsa yang kuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai bangsa yang besar. Idonesia negara terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, dengan populasi lebih dari 258 juta jiwa pada tahun 2010. 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Menurut prediksi Standar Chatered yang dipublikasikan oleh Bloomberg, bahwa tahun 2030 Indonesia akan menjadi Negara terbesar dunia. Ada tiga syarat yaitu petumbuhan ekonomi tidak kurang dari 5 persen, SDM yang produktif, dan Pemilu yang aman dan kondusif. Oleh karena itu kebersamaan kita dalam menyikapi hasil Pilpres harus dikedepankan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Dalam litertur sosial ada yang disebut dengan etika kepedulian. Kepedulian lebih utama daripada menuntut hak. Artinya kepentingan bersama di atas kepentingan-kepentingan yang lain. Jelasnya.

Coba jika kita bandingkan dengan Arab terdiri dari 20 negara bagian, punya satu bahasa, agama, warna kulit, dan kultur. Sedangkan Indonesia, semua warna kulit ada, yakni hitam, putih, coklat, ada 300 bahasa, dan kultur yang berbeda-beda. Mereka sedang didera konflik yang berkepanjangan. terangnya

Mengelola Indonesia memang tidak mudah. Sebagai Negara dengan kepulauan terluas, jarak dari Sabang sampai Meruake sampai dengan jarak dari Indonesia ke Mekah. Jumlah partai yang banyak yaitu terdiri dari 16 partai peserta Pemilu 2019. Jika kita bandingan dengan Amerika sebagai Negara kampiumnya demokrasi, hanya dua partai yaitu Demokrat dan republic. Memang kompleks. Tetapi kita telah membuktikan sejak tahun 1908 artinya 111 tahun kita memiliki komitmen yang tetap utuh yaitu Bangkit Bersatu.

Pemilu 2019 memang tidak sempurna. Banyak kurang di sana sini. Tetapi kekurangan itu adalah kekurangan kita bersama. Menjadi cermin untuk perbaikan di masa-masa yang akan dating. Bagi yang belum memperoleh kemenangan adalah sesuatu yang wajar menyalurkan sikap-sikap dan tradisi demokrasi, yaitu dengan demo, ifthor akbar, bahwa yang mereka sebut people power. Itu bagian dari peristiwa demokrasi. Asal jangan kelamaan. Setelah 22 Mei kita akhiri, Bersatu kembali membawa negeri yang maju, adil, dan makmur sebagai cita-cita bersama.

Sumadi menghimbau melakukan tindakan-tindakan inskonstitusional yang merugikan masa depan dan kebersamaan yang kita bangun bersama. Akibat seruan people power yang cenderung banyak mengarah pada kerusuhan menjadi keresahan bersama. Berbagai Negara telah mengeluarkan peringatan terkait dengan warganya di Indonesia. Misalnya catatan Tempo (20/5/19) ada kerugian keresahan sosial dan kerugian timbul di sektor ekonomi. Sebagian pengusaha menunda keputusan bisnis sembari menunggu perkembangan situasi. Dalam sepekan terakhir, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia anjlok 6,16 persen. Kurs rupiah melorot 0,87 persen lantaran sebagian investor khawatir dan memutuskan keluar dari pasar. Sejumlah kedutaan besar negara pun merilis peringatan keamanan kepada warganya yang berkunjung ke Indonesia. Sektor pariwisata sedikit-banyak pasti terganggu oleh peringatan keamanan itu.

Untuk mencegah kerugian semakin besar, tak ada jalan lebih baik semua pihak selain menaati sistem demokrasi kita. Budaya kita mengajarkan untuk musyawarah dan gotong royong dalam menghadapi berbagai masalah kebangsaan. Orang Semntara kearifan lokal budaya kita orang Sunda mengenal sejumlah pesan yang merekatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Misalnya:

  1. Ulah pagiri-giri calik, pagirang-girang tampian - jangan berebut kekuasaan, sirik pidik, jail kaniaya.
  2. Mulah marebutkeun balung tanpa eusi yang artinya jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya.
  3. Mulah ngaliarkeun taleus ateul (HOAKS) yang artinya jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
  4. Bobot pangayun timbang taraju (Apa yang akan kita lakukan harus di pertimbangan terlebih dahulu)
  5. Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salogak - Kompak, harmonis dalam kebersamaan atau team work.
  6. Kudu silih asih, silih asah, jeung silih asuh (Kita harus saling mengasihi, mengasah, dan juga saling mengasuh antar sesama manusia).
  7. Kawas gula eujeung peueut yang artinya manusia harus hidup harus rukun saling menyayangi, tidak pernah berselisih, satu sama lain harus saling menguatkan.
  8. Keenam, Sanajan sewang-sewang tapi teu ewang-ewang. Meski berbeda-beda, tetap satu kesatuan tak terpisahkan (Warga Susuru).
  9. Bengkung ngariung bongok ngaronyok (Jika kita menghadapi suatu kesulitan atau masalah pecahkan secara bersama-sama)

Kembali pada impian Ibu pertiwi kita bersatu, bergandengan tangan dan bersenyum bersama di bumi indonesia. Pungkasnya ( AST).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *